^^ About Me ^^

Showing posts with label Kehidupan Remaja. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan Remaja. Show all posts

Terlalu Indah

Ketika sebuah perasaan indah sudah mulai tumbuh di relung hati
Siapakah yang bisa menolak
Ketika perasaan hangat muncul setiap melihatnya
Apakah perlu menhindari perasaan sendiri
Ketika rasa takut di tolak muncul
Ketika takut akan retaknya persahabatan yang sudah dibina selama bertahun-tahun
Apakah mungkin untuk menyembunyikan perasaan ini
Kendati perasaan ini bukanlah terlarang
-------------------------------

Ketika Kau Kembali


------------------------------------------------------------------------------------

Aku melihatnya, disana. Selama ini aku selalu memperhatikannya, dan dia memang selalu seperti itu. Menyendiri dan tenggelam dalam dunianya. Aku memberanikan diriku menghampiri tempatnya berteduh, dibawah sebuah pohon rindang yang aku sendiri tak yakin apa jenisnya. Dia menyadari kehadiranku, aku tahu dia menyadari kehadiranku bahkan setiap orang yang mendekatinya. Dia yang menyadari keberadaanku bukan berarti dia menghiraukan diriku. Bahkan mungkin, dia tak menghiraukan apapun yang ada disekelilingnya. Dia mengenakan earphone dan terlihat sedang membaca sebuah buku. Novelkah? Bukan, ketika kuperhatikan lagi ternyata sebuah ensiklopedia dunia. Dan aku semakin heran mengapa aku menyukainya, ah tidak... mencintainya.

Adakah Cinta?



Word : 6523

Terinspirasi dari sebuah mimpi...

Adakah Cinta
©
Me
Seorang anak perempuan berusia kira-kira dua belas tahun, duduk memandang seorang anak laki-laki dihadapannya dengan wajah penasarannya yang polos. Dikanan-kirinya terdapat kedua orang tuanya yang mengapit dia. Begitupun dengan anak laki-laki yang berada dihadapannya, yang sedang diperhatikannya. Seorang anak laki-laki yang memiliki wajah imut namun menawan. Saat memandang matanya, anak perempuan tersebut serasa tenggelam dalam mata yang kelam itu.
"Samantha Indriani" Anak perempuan tersebut menyebutkan namanya saat keduanya berjabat tangan.
"Rendy Sastrawan" Begitu pula dengan anak laki-laki yang dipandanginya.
Mereka berdua dikenalkan untuk diikat dalam sebuah tali perjodohan yang sudah direncanakan kedua orang tua mereka. Jauh.. jauh sebelum mereka lahir. Dan kini mereka harus menyetujuinya, kehendak orang tua mereka. Meski didalam hati kecil kedua anak tersebut.. Mereka menolak.
---
Jodoh.. Serasa hidup dijaman penjajahan. Aku tahu keluarga kami terpandang, aku juga tahu kedua orang tua kami bersahabat. Tapi, apakah masuk akal mengorbankan kebahagiaan anaknya, khususnya kebahagiaanKU. Untung orangnya yang dijodohkan denganku juga tampan, kalau tidak? Ck.
Kulangkahkan kakiku kesal menuju rumah sahabatku yang hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumahku. Setelah keluarga Sastrawan tadi pulang, aku segera berjalan menuju rumah sahabatku, Mirna.
Sesampainya didepan rumahnya, segera kutekan bel disamping pintu rumah tersebut. Sambil menunggu aku hanya bisa menghea nafas kesal, Mirna saja tidak dijodohkan, mengapa aku harus?
"Tha? Ada apa?" Tanyanya heran.
Tanpa menjawab pertanyaannya aku segera menarik pergelangan tangannya dan mengajaknya memasuki kamarnya di lantai dua.
"Ada apa sih?" Ujarnya kesal, sembari mengusap pergelangan tangannya yang kini bertanda merah karena ku cengkeram.
"Gua dijodohin, Na" Ucapku agak kesal.

Number 201 - Part 1


Indah ketika kulihat senyumnya, andai aku yang membuatnya tersenyum seperti itu, dan aku tahu itu sangatlah mustahil. Bibir tipisnya yang terbuka ketika tertawa, sorot matanya yang hangat, ingin aku memilikinya. Kacamata tipisnya, membuatnya tampil lebih dari seharusnya. Aku sadar, aku... Mencintainya... Hanya keajaibanlah yang dapat menolongku, hanya keajaibanlah yang dapat membuatku memilikinya. Karena cintaku, hanyalah sebuah cinta terlarang.

xxxXXXxxx

Hari pertamaku menginjakkan kaki disini setelah liburan panjangku, hari - hari yang kutunggu. Bukan karena aku senang belajar, tentu saja bukan. Tetapi karena seseorang yang telah mencuri hatiku sejak hari pertama aku menginjakkan kakiku disini. Seseorang yang takkan pernah bisa kugapai, seseorang yang bukan milikku, seseorang yang kucintai, dan mirisnya, dia sahabatku. Sekolahku yang berasrama membuatku harus meninggalkan rumahku selama beberapa bulan, dan aku sangatlah tidak berkeberatan. Benar-benar bukanlah keputusan yang salah aku memilih sekolah ini, Sekolah Menengah Atas berasrama campuran. Dan disinilah aku bertemu dengannya, dan bersahabat dengannya.

Love Flew - Part 4

Dan sampai saat inipun, masih susah untukku percaya bahwa dirinya...
Gay...

---

"Na, boleh ga gua nanya sesuatu?" Shantika berusaha menjajari langkahku yang tergesa.
"Hmm?" Aku hanya bergumam tanda memperbolehkannya, sembari menyesap minuman yang kubawa.
"Kenapa lu yakin lu kagak bisa jadi pacarnya Dima?" Seketika aku tersedak. Shantika yang terkejut menepuk nepuk punggungku pelan membantu melancarkan pernafasanku.
"Gua salah nanya yah?" Ucapnya dengan mimik tak berdosa.
"Kagak sih, gua cuma kaget" Aku menyahut, masih sambil menetralkan nafasku yang terburu akibat tersedak.
"Trus gua boleh tau jawabannya kagak?" Shantika kembali bertanya.
"Emang apa pentingnya Ka?" Aku berusaha menhindar.
"Ayolah gua penasaran Na" Shantika mendesakku.

Love Flew - Part 3

"Rendy..."

---

Aku menoleh, melihat Samantha memandang nanar ke arah pepohonan lebat di samping kami. Kulihat Shantika masik asyik dengan kegiatannya memetik anggur, sepertinya dia tidak mendengar gumaman Samantha memanggil sosok seseorang yang sudah kami anggap sebagai kakak. Kulihat kembali arah pandangan Samantha, kosong...
"Tha..." Aku memanggilnya.
Tidak ada reaksi, sepertinya dia tetap memperhatikan tempat kosong itu. Aku mendekatinya dan menepuk pundaknya sekilas.
"Tha.. Lihat apa?"
"Na.. Kak Rendy Na.. Dia ada disini, dia disini tadi.." Suaranya yang lirih mengiris hatiku, jelas sekali tadi dia berhalusinasi.

Love Flew - Part 2

“Gua baru sadar kalau.. gua cinta Rendy.” Akhirnya kalimat pengakuanku yang terlambat terucap juga dari bibirku. Pengakuan yang sangatlah terlambat…

Denin terdiam, berbalik dan menatap lurus dalam mataku mungkin sedang mencari kejujuran akan kata kataku.
"Lu yakin sama perasaan lu?" Tanyanya, agak ragu.
Aku mengangguk, pelan. Ada sedikit perasaan aneh dalam hatiku saat kumelakukannya. Aku takut dia menyadari keraguanku, menyadari bahwa mungkin, ini hanya buah kekalutan dan rasa kehilanganku saja. Entahlah, aku tak mengerti akan perasaanku sendiri. Akhirnya kuputuskan berjalan mendahuluinya. Menghindari kecanggungan mungkin?
Kami terus berjalan mengitari halaman rumah yang luas ini, sembari terus memutar balik kenangan yang pernah terjadi disini, bersama Rendy. Kami berjalan dalam sunyi, sama sama tak tahu apa yang harus diperbincangkan.
Tes..
Tes..
Tes..

Love Flew - Part 1

Warning : Cerita agak monoton dan ide sudah sering dipakai, latar kehidupan sehari-hari yang agak dimodifikasi, sistem sekolah memakai sistem sekolah musik-umum ^^ , dan karena ini cerpenku, terserahku yah mau bikin sekolahnya kayak gimana, juga ini imajinasiku, jangan protes soal itu



------




Samantha namaku, kini aku duduk dikelas 2 SMA, baru tiga hari aku duduk dikelas 2 ini, aku sudah merasa betah dengan teman-teman sekelasku. Meskipun tidak ada yang terlalu dekat denganku. Aku memiliki 2 sahabat yang memiliki kelas yang berbeda denganku, aku sendiri yang terpisah karna aku memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Umum-Sosial sedangkan kedua temanku memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Musik. Karena tahun ajaran yang baru saja dimulai, kesibukan belajar belum terlalu padat, dan acara MOS (Masa Orientasi Siswa) masih berlangsung untuk para juniorku.
Mengasingkan diri, aku terdiam di ruang musik sembari melihat kesekeliling, takut-takut ada yang memergokiku, bukan karna siswa biasa dilarang memasuki ruangan ini, tapi karna aku malu jika ada yang melihatku. Kututup pintu dan mulai melangkah ketengah ruangan. Kuturunkan tas kecil yang sedari tadi kutenteng dan kubuka serta kukeluarkan isinya. Sebuah flute putih dengan ukiran elegan. Dengan perlahan kudekatkan ujung flute itu kebibirku dan kutiup, jari-jariku bermain lincah membuka dan menutup lubang-lubang yang ada pada flute tersebut.

Followers